AUDISI DAN KANDANG KAMBING
_ Oleh: Rossy Blackmonster
APA HUBUNGANNYA ?????????
Aduhhhhh! aduh emak, aduh bapak, aduh masa aku kawin lagi. Dari pada kawin cerai nanti akuuu malu sama pak penghulu, biarkan saja aku menjanda! Lalalala…..
APA HUBUNGANNYA ?????????
Aduhhhhh! aduh emak, aduh bapak, aduh masa aku kawin lagi. Dari pada kawin cerai nanti akuuu malu sama pak penghulu, biarkan saja aku menjanda! Lalalala…..
Vania dengan asik mendendangkan lagu dangdut yang lagi ngetrend dikalangan ibu-ibu arisan sambil mengguyur air mandi ketubuhnya yang mungil itu.
“WOIII!! Mau sampai kapan kamu di dalam!” teriak kak Faiz dari luar.
“Bentar lagi selesai!” balas Vania dari dalam kamar mandi.
“Mandi apa konser tuh neng, lama amat mandinya. Kak Faiz mau ngampus Van cepetan keluar.”
“Mau konser kak, kalaunya bisa, hehehe…,” Vania muncul di hadapan Faiz dengan selembar handuk yang dililitkan di dadanya.
“Konser mah konser neng tapi jangan lupa ini kamar mandi. Udah, ah, kakak mau mandi dulu. Entar telat lagi ngampusnya,” Faiz langsung menuju kamar mandi tanpa membuang-buang waktu.
“Walah-walah! Kok anak gadis kayak gitu, Van. Sana pake bajunya jangan cuma handukan saja! Gak enak kalau nanti dilihat orang,” bunda menghampiri Vania yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Ehehe, iya bunda! Vania tadi lupa bawa baju ganti. Ya sudah Vania naik ke atas dulu ya, Bun!” Vania pun bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
*****
“Kamu beneran mau jadi penyanyi, Van?” ujar Fiola sambil melangkahkan kaki menuju tempat duduk.
“Tentu donk! Aku serius banget malah. Aku pengen jadi penyanyi seperti agnes monica, Fi!” mata Vania berbinar-binar menceritakan mimpinya itu kepada sahabat sekaligus teman sebangkunya.
“Mimpi sih boleh, Van! asal jangan lupa terus berusaha. Oia kapan kamu mau ikut audisi nyanyi? Katanya diadain sama anak-anak fakultas kesenian, ya?”
“Iya, Fi, audisinya hari ini. Tapi aku belum bilang bunda, takutnya entar dimarahin. Nanti kamu temenin aku audisinya, ya.”
“Iya-iya! Nanti aku temenin, tapi jangan lupa traktir aku ya! Hehehe...”
“Walah kamu tu, Fi! Belum apa-apa juga sudah minta traktir. Nanti tambah gendut loh!” ucap Vania sambil mencubit perut Fiola yang berisi penuh lemak.
Pembicaraan mereka berdua langsung terhenti ketika Pak Nicolas memasuki ruangan kelas. Pak Nicolas adalah guru matematika yang terkenal kiler dan disiplin di sekolah. Pak Nicolas tidak segan-segan menghukum murid yang tidak mengerjakan tugas dan ngobrol pada waktu pelajaran beliau sudah dimulai. Hukuman yang beliau berikan tidak berupa pukulan-pukulan ataupun keliling lapangan sepak bola sebanyak 20 kali. Hukuman dari pak Nicolas lebih mengerikan dari pada keliling lapangan. Mereka akan mendapat les privat langsung dari pak Nicolas dengan sejumlah soal-soal matematika yang mematikan.
******
Seusai sekolah mereka berdua bergegas menuju tempat audisi meskipun matahari di siang itu begitu terik namun tak mematahkan semangat mereka .
“Van, kita perginya naik apa?”
“Kita naik bus aj, Fi! Kan nggak mungkin banget aku minta jemput sama ka Faiz,” ujar Vania sambil berjalan menuju halte bis.
“WOIII!! Mau sampai kapan kamu di dalam!” teriak kak Faiz dari luar.
“Bentar lagi selesai!” balas Vania dari dalam kamar mandi.
“Mandi apa konser tuh neng, lama amat mandinya. Kak Faiz mau ngampus Van cepetan keluar.”
“Mau konser kak, kalaunya bisa, hehehe…,” Vania muncul di hadapan Faiz dengan selembar handuk yang dililitkan di dadanya.
“Konser mah konser neng tapi jangan lupa ini kamar mandi. Udah, ah, kakak mau mandi dulu. Entar telat lagi ngampusnya,” Faiz langsung menuju kamar mandi tanpa membuang-buang waktu.
“Walah-walah! Kok anak gadis kayak gitu, Van. Sana pake bajunya jangan cuma handukan saja! Gak enak kalau nanti dilihat orang,” bunda menghampiri Vania yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Ehehe, iya bunda! Vania tadi lupa bawa baju ganti. Ya sudah Vania naik ke atas dulu ya, Bun!” Vania pun bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
*****
“Kamu beneran mau jadi penyanyi, Van?” ujar Fiola sambil melangkahkan kaki menuju tempat duduk.
“Tentu donk! Aku serius banget malah. Aku pengen jadi penyanyi seperti agnes monica, Fi!” mata Vania berbinar-binar menceritakan mimpinya itu kepada sahabat sekaligus teman sebangkunya.
“Mimpi sih boleh, Van! asal jangan lupa terus berusaha. Oia kapan kamu mau ikut audisi nyanyi? Katanya diadain sama anak-anak fakultas kesenian, ya?”
“Iya, Fi, audisinya hari ini. Tapi aku belum bilang bunda, takutnya entar dimarahin. Nanti kamu temenin aku audisinya, ya.”
“Iya-iya! Nanti aku temenin, tapi jangan lupa traktir aku ya! Hehehe...”
“Walah kamu tu, Fi! Belum apa-apa juga sudah minta traktir. Nanti tambah gendut loh!” ucap Vania sambil mencubit perut Fiola yang berisi penuh lemak.
Pembicaraan mereka berdua langsung terhenti ketika Pak Nicolas memasuki ruangan kelas. Pak Nicolas adalah guru matematika yang terkenal kiler dan disiplin di sekolah. Pak Nicolas tidak segan-segan menghukum murid yang tidak mengerjakan tugas dan ngobrol pada waktu pelajaran beliau sudah dimulai. Hukuman yang beliau berikan tidak berupa pukulan-pukulan ataupun keliling lapangan sepak bola sebanyak 20 kali. Hukuman dari pak Nicolas lebih mengerikan dari pada keliling lapangan. Mereka akan mendapat les privat langsung dari pak Nicolas dengan sejumlah soal-soal matematika yang mematikan.
******
Seusai sekolah mereka berdua bergegas menuju tempat audisi meskipun matahari di siang itu begitu terik namun tak mematahkan semangat mereka .
“Van, kita perginya naik apa?”
“Kita naik bus aj, Fi! Kan nggak mungkin banget aku minta jemput sama ka Faiz,” ujar Vania sambil berjalan menuju halte bis.
Hampir 15 menit vania dan Fiola menunggu bus yang datang, namun sampai saat ini belum ada yang datang. Pada akhirnya bus yang mereka harapkan datang juga. Tanpa pikir panjang mereka langsung menaiki bus untuk menuju tempat audisi.
*****
“Tempatnya ada di lantai berapa, Van?”
“Dari brosur yang kubaca sih ada di lantai 5, kita coba tanya aja yuk!” ajak Vania sambil menggandeng tangan Fiola menuju lantai atas.
Banyak muda-mudi yang berdatangan untuk ikut audisi seperti Vania. Mereka menggunkan konstum yang unik-unik dan mewah. Berbeda sekali halnya dengan Vania yang hanya mengenakan seragam SMAnya.
“Yuk naik,” ajak Fiola.
“Aku gugup, Fi! Banget,” ujar Vania sambil mengenggam tangan Fiola.
“Idih apa-apaan tuh pegang-pegang tanganku, entar dikira orang ada apa-apa lagi, hiiyyy... jijik!”
“Alah, itu pikiran kamu aja tuh, Fi! Aku mah ogah sama kamu, mending sama kambing sekalian.”
“Mau tak doain beneran sama kambing lo, Van, baru tau rasa entar!”
“Dih, jangan gitu, Fi! Akukan cuma becanda.” Fiola hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya yang satu ini.
Tiba-tiba saja lampu lift mati dan mendadak berhenti. Ruangan itu tampak gelap gulita dan beberapa orang yang menaikinya tampak panik sekali.
“Bundaaaaa....! tolongin Vania, Bun!” rengek Vania.
“Van, sabar yah! Jangan takut, aku ada di sampingmu, kok,” Fiola mencoba menenangkan sahabatnya yang sejak kecil memang takut dengan kegelapan.
“Gak usah takut, dek! Nanti juga nyala lagi,” terdengar suara seseorang di samping Vania.
“Ngomong mah enak, takut tau!” Vania mulai terisak.
“Takut juga gak ada gunanya, gak bisa bikin nih lift lancar lagi,” ujar suara tersebut.
“Mending pelukan sama kambing di kandangnya daripada disini.”
“Husss...! Nggak boleh gitu, Van! Takut mah takut, tapi jangan bawa-bawa kambing mulu, napa!” Fiola agak protes karena dari tadi Vania ngomongin kambing melulu. Mendengar percakapan kedua sahabat itu mau tak mau seseorang yang berada di samping Vania ikut tersenyum. Senyum yang tak bisa dilihat mereka karena kegelapan ini.
Lift sudah kembali normal, semua orang yang berada di dalamnya terlihat begitu lega. Tampak seorang Vania duduk di lantai lift dengan wajah yang kusut dan pakaian yang kucel karena habis menangis saking takutnya.
“Ayo keluar kita sudah sampai!” Fiola membangunkan Vania dari lantai.
*****
“Vania Nova Soraya...!” suara seseorang dari ruang audisi memanggil namanya. Kini giliran Vania maju untuk menunjukkan bakat dan kebolehannya dalam bernyanyi.
“Mau nyanyi di sini apa di kandang kambing?” ucap seorang dewan juri ketika Vania meletakkan formulir dan biodata diri di meja juri. Vania terkejut bukan main, dipandanginya wajah itu lekat-lekat. Wajahnya tersenyum nampak begitu bersahabat. Vania pun ikut tersenyum sekaligus malu karena laki-laki itu tadi melihatnya menangis di dalam lift.
Setelah selesai audisi, Vania dengan gelisah menunggu hasil pengumuman siapa saja yang lolos audisi kali ini. Tak berapa lama pengumuman pun akhirnya ditempelkan di dinding pengumuman. Setelah dicari-cari ternyata nama Vania tidak termasuk di dalam orang-orang yang lulus audisi.
“Sabar, Van! Mungkin belum waktunya,” Fiola kembali menyemangati Vania.
“Iya, Fi. Mungkin belum waktunya. Toh perjalananku masih panjang,” Vania mulai kembali bersemangat seperti biasanya.
“Masih ada kesempatan, kok! Makanya latihan nyanyinya jangan di kandang kambing terus ya!”
Vania dan Fiola langsung menoleh ke arah suara barusan. Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari mereka tersenyum manis kepada mereka. Laki-laki itu umurnya tidak jauh beda dengan mereka berdua. Hanya lebih tua sekitar 3 tahun dari usia mereka.
“Aku Reno, kamu?” laki-laki yang mengaku Reno itu mengulurkan tangannya di hadapan Vania.
“Aku Vania dan ini Fiola sahabatku,” Vania menerima uluran tangan dai Reno. Mereka bertiga berbincang-bincang sebentar kemudian berpisah kembali untuk melanjutkan aktifitas masing-masing.
Alunan musik why me dari Yui berdendang ria di dalam tas ransel kepunyaan Vania. Dilihatnya ada sms masuk dari nomor yang tidak dikenal.
08525375xxxxx
Boleh nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi?
By Reno
Mata Vania terbelalak melihat sms yang baru saja dibacanya. Reno dari mana tau nomorku? Ucap Vania dalam hati. Ada getaran-getaran halus di dadanya entah apa itu. Tak perlu lama buat Vania untuk membalas sms itu.
Boleh. Kapan?
By Vania
Reno
Hari minggu ini bisa? Ntar ku jemput asal
jangan ke kandang kambing aja, ya! Hehehe...
Wajah Vania seketika itu menjadi cemberut namun tak berapa lama senyum pun mengembang di wajahnya. Melihat hal itu Fiola hanya bisa terheran-heran melihat tingkah laku sang sahabat. Meski tidak lulus audisi tapi hari ini aku senang banget punya kenalan super keren kaya Reno! Ujar Vania sambil berjalan meninggalkan tempat audisi.
The end
*****
“Tempatnya ada di lantai berapa, Van?”
“Dari brosur yang kubaca sih ada di lantai 5, kita coba tanya aja yuk!” ajak Vania sambil menggandeng tangan Fiola menuju lantai atas.
Banyak muda-mudi yang berdatangan untuk ikut audisi seperti Vania. Mereka menggunkan konstum yang unik-unik dan mewah. Berbeda sekali halnya dengan Vania yang hanya mengenakan seragam SMAnya.
“Yuk naik,” ajak Fiola.
“Aku gugup, Fi! Banget,” ujar Vania sambil mengenggam tangan Fiola.
“Idih apa-apaan tuh pegang-pegang tanganku, entar dikira orang ada apa-apa lagi, hiiyyy... jijik!”
“Alah, itu pikiran kamu aja tuh, Fi! Aku mah ogah sama kamu, mending sama kambing sekalian.”
“Mau tak doain beneran sama kambing lo, Van, baru tau rasa entar!”
“Dih, jangan gitu, Fi! Akukan cuma becanda.” Fiola hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya yang satu ini.
Tiba-tiba saja lampu lift mati dan mendadak berhenti. Ruangan itu tampak gelap gulita dan beberapa orang yang menaikinya tampak panik sekali.
“Bundaaaaa....! tolongin Vania, Bun!” rengek Vania.
“Van, sabar yah! Jangan takut, aku ada di sampingmu, kok,” Fiola mencoba menenangkan sahabatnya yang sejak kecil memang takut dengan kegelapan.
“Gak usah takut, dek! Nanti juga nyala lagi,” terdengar suara seseorang di samping Vania.
“Ngomong mah enak, takut tau!” Vania mulai terisak.
“Takut juga gak ada gunanya, gak bisa bikin nih lift lancar lagi,” ujar suara tersebut.
“Mending pelukan sama kambing di kandangnya daripada disini.”
“Husss...! Nggak boleh gitu, Van! Takut mah takut, tapi jangan bawa-bawa kambing mulu, napa!” Fiola agak protes karena dari tadi Vania ngomongin kambing melulu. Mendengar percakapan kedua sahabat itu mau tak mau seseorang yang berada di samping Vania ikut tersenyum. Senyum yang tak bisa dilihat mereka karena kegelapan ini.
Lift sudah kembali normal, semua orang yang berada di dalamnya terlihat begitu lega. Tampak seorang Vania duduk di lantai lift dengan wajah yang kusut dan pakaian yang kucel karena habis menangis saking takutnya.
“Ayo keluar kita sudah sampai!” Fiola membangunkan Vania dari lantai.
*****
“Vania Nova Soraya...!” suara seseorang dari ruang audisi memanggil namanya. Kini giliran Vania maju untuk menunjukkan bakat dan kebolehannya dalam bernyanyi.
“Mau nyanyi di sini apa di kandang kambing?” ucap seorang dewan juri ketika Vania meletakkan formulir dan biodata diri di meja juri. Vania terkejut bukan main, dipandanginya wajah itu lekat-lekat. Wajahnya tersenyum nampak begitu bersahabat. Vania pun ikut tersenyum sekaligus malu karena laki-laki itu tadi melihatnya menangis di dalam lift.
Setelah selesai audisi, Vania dengan gelisah menunggu hasil pengumuman siapa saja yang lolos audisi kali ini. Tak berapa lama pengumuman pun akhirnya ditempelkan di dinding pengumuman. Setelah dicari-cari ternyata nama Vania tidak termasuk di dalam orang-orang yang lulus audisi.
“Sabar, Van! Mungkin belum waktunya,” Fiola kembali menyemangati Vania.
“Iya, Fi. Mungkin belum waktunya. Toh perjalananku masih panjang,” Vania mulai kembali bersemangat seperti biasanya.
“Masih ada kesempatan, kok! Makanya latihan nyanyinya jangan di kandang kambing terus ya!”
Vania dan Fiola langsung menoleh ke arah suara barusan. Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari mereka tersenyum manis kepada mereka. Laki-laki itu umurnya tidak jauh beda dengan mereka berdua. Hanya lebih tua sekitar 3 tahun dari usia mereka.
“Aku Reno, kamu?” laki-laki yang mengaku Reno itu mengulurkan tangannya di hadapan Vania.
“Aku Vania dan ini Fiola sahabatku,” Vania menerima uluran tangan dai Reno. Mereka bertiga berbincang-bincang sebentar kemudian berpisah kembali untuk melanjutkan aktifitas masing-masing.
Alunan musik why me dari Yui berdendang ria di dalam tas ransel kepunyaan Vania. Dilihatnya ada sms masuk dari nomor yang tidak dikenal.
08525375xxxxx
Boleh nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi?
By Reno
Mata Vania terbelalak melihat sms yang baru saja dibacanya. Reno dari mana tau nomorku? Ucap Vania dalam hati. Ada getaran-getaran halus di dadanya entah apa itu. Tak perlu lama buat Vania untuk membalas sms itu.
Boleh. Kapan?
By Vania
Reno
Hari minggu ini bisa? Ntar ku jemput asal
jangan ke kandang kambing aja, ya! Hehehe...
Wajah Vania seketika itu menjadi cemberut namun tak berapa lama senyum pun mengembang di wajahnya. Melihat hal itu Fiola hanya bisa terheran-heran melihat tingkah laku sang sahabat. Meski tidak lulus audisi tapi hari ini aku senang banget punya kenalan super keren kaya Reno! Ujar Vania sambil berjalan meninggalkan tempat audisi.
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar