Oleh: Muhammad Dede Firman
“Masih membuat batik,
Nek?” tanyaku.
“Ya. Tentu saja,” nenek
menjawab pasti.
Kulihat tangan
keriputnya masih menggeraki canting dengan perlahan untuk mengukir sebuah motif
Cirebon yang bergambar awan. Seperti biasanya.
“Untuk apa terus
seperti itu? Selama ini nenek terus membatik, tapi hasilnya selalu dijadikan
koleksi. Bukankah itu hanya menghabiskan sisa hidup nenek?”
“Kalau sudah cinta
dengan budaya Indonesia yang satu ini, harus bagaimana lagi? Membatik adalah
kegiatan turun-temurun dari keluarga nenek. Sayangnya, nenek belum sempat
menurunkannya pada ibumu yang kini telah tiada,” nenek termenung. Setelah itu,
beliau menatapku.
“Lalu, nenek piker
Linda mau menjadi salahsatu turunan itu?” tanyaku. Kemudian nenek menganggukkan
kepalanya. “Tidak, Nek! Linda tidak tertarik dengan batik!”
Kutinggalkan nenek di
ruang keluarga dengan peralatan batiknya. Sungguh, aku tidak tertarik
sedikitpun dengan batik. Itu budaya kuno! Sekarang kan jamannya modern.
***
Pukul
05.00 pagi.
Mataku
kembali terbuka. Pikiranku baru mengingat sebuah kegiatan langka di sekolahku
yang akan dilakoni hari ini. Pameran budaya Indonesia. Itu adalah saat-saat di
mana akan dipamerkannya budaya-budaya Indonesia, yang diperoleh dari setiap
siswa.
Oh,
my God! Kenapa aku bisa lupa? Tanyaku dalam hati. Dengan pikiran resah, aku
tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada budaya Indonesia yang bisa kupamerkan
di sekolah. Terkecuali… jika aku mengambil batik nenek.
***
Sekolah
nampak ramai saat aku datang. Tentu saja, akan banyak pengunjung dari
sekolah-sekolah lain hari ini. Aku piker mereka akan kagum dengan apa yang aku
bawa, beberapa kain mori dengan batik yang tertempel di dalamnya.
Dan
ternyata benar! Para pengunjung sangat tertarik dengan apa yang kubawa. Mereka
kagum akan ukiran bentuknya yang sangat rapi dan hampir tanpa cacat sedikitpun.
“Apa
ini buatan kamu sendiri?” tanya Pak Rahman. Guru seni budaya di kelasku.
“Ya.
Tentu saja,” dustaku. Aku ingin namaku tertampang harum di matanya.
Sekilas
kulihat Pak Rahman mengutaskan senyum manisnya. Ah, berapa nilai seni budaya-ku
nanti? Aku kira bisa saja melompat hingga angka sembilan.
“Linda!”
teriak seorang laki-laki yang aku kenal. Ayah!
Segera
kuhampiri beliau. Seiring dengan langkah kaki yang semakin kupercepat, hatiku
semakin berbunga-bunga. Mungkin ayah akan senang padaku.
“Ada
apa, Yah?
“Nda,
nenekmu masuk rumah sakit!”
“Apa?”
Seketika
kesenanganku sirna. Pelangi di hatiku berubah menjadi mendung.
“Ya.
Tadi nenekmu telah kehilangan semua batiknya. Tapi, seketika saja nenek
berpikir bahwa tetangga sebelah yang mengambilnya secara diam-diam saat nenek
tertidur,” ayah menghela napas. Membuatku semakin penasaran saja.
“Lalu?”
“Lalu
nenek hendak menghampiri rumah tetangga sebelah. Tapi, tanpa dia ketahui,
sebuah motor dengan cepat dan akhirnya…”
“Nenek
tertabrak dan masuk rumah sakit?” tebakku. Ayah mengangguk. Aku mulai merasa
bersalah. Sangat bersalah.
Andai
saja aku bisa mencintai batik sejak dulu, mungkin aku akan bisa membuatnya
sendiri untuk pameran hari ini, tanpa harus mengambil batik nenek. Mungkin jika
itu bisa kulakukan, nenek tidak akan pernah masuk rumah sakit. *